Tanah Papua

Indonesia memang kaya akan ragam suku, budaya dan pulau. Dari Sabang hingga Merauke kita bisa menyaksikan kearifan lokal yang dimiliki. Setiap pulau memiliki kebudayaan suku yang beraneka ragam.

Saat itu saya berencana menuju salah satu wilayah yang terletak dibagian Timur Indonesia. Wilayah tersebut sangat terkenal dengan keunikan suku budaya yang dimilikinya. Kita sering sebut dengan Papua. Timika, Papua menjadi tempat tujuan perjalanan saya kali ini. Dengan menggunakan transportasi udara dari Bandara International Soekarno Hatta, saya berangkat malam hari dari Jakarta, sebab jadwal penerbangan menuju Papua tidak sebanyak seperti penerbangan ke tempat lainya.  Sekitar pada pukul 11.00 PM WIB saya meninggalkan Jakarta, Alhamdulillah-nya … cuaca malam itu sangatlah bagus. Dua jam penerbangan di udara saya terlebih dahulu transit di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Saya pun turun dari pesawat dan berganti pesawat untuk tujuan selanjutnya. 30 Menit saya menunggu saya pun kembali lepas landas dan terobang – ambing kembali di udara hingga pagi hari. Pada pukul 06.30 AM WIT saya akhirnya tiba di Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika – Papua.

 

Dan pagi itu saya di sambut oleh butiran – butiran air hujan yang turun dari langit menyapa saya sebagai ucapan tiba nya di tanah Papua. Beberapa menit saya menunggu Driver yang akan menjemput saya, dan akhirnya saya segera menaikan Carrier bawaan saya kedalam bagasi bagian belakang,

“ Selamat Pagi, dan Selamat datang di Tanah Papua “ Driver mengucapkan salam kepada saya.

“ Selamat Pagi juga bapak, sungguh indah perjalanan menuju Papua “ Saya menjawab salam Bapak Driver .

“ Maaf, bapak sebelumnya sudah lama menunggu” Driver mengucap kepada saya.

“ Tidak apa pak, Saya sangat senang sudah bisa di jemput” Saya mengucap kembali kepada Driver.

 

Dalam perjalanan menuju penginapan saya meilihat ke sisi jalan, beberapa orang pribumi Papua sudah mulai melakukan aktifitas pagi harinya, mereka mengenakan sepeda motor maupun berjalan kaki untuk menuju ladang tempat mereka mencari nafkah. Tidak jarang mereka memberikan sambutan kepada saya dengan senyuman saat saya membuka kaca bagian sebelah kiri saya. 10 menit saya di perjalanan dan akhirnya saya tiba di penginapan.

Sampai dipenginapan saya langsung mendatangi Front Desk Hotel untuk Checkin dan meminta kunci kamar. Setelah saya masuk ke dalam kamar dan meletakan barang bawaan, selanjutnya saya menuju resto untuk melakukan Breakfast. Ada yang unik disini, Breakfast yang disajikan berupa makanan olahan Sagu, biasa orang Papua menyebutnya Papeda. Sagu memang terkenal sebagai makan pokok warga Papua, tidak jarang mereka mengkonsumsi olahan sagu beserta lauk yang di dapat dari alam Papua. Walaupun sagu menjadi makanan pokok, kita juga masih menjumpai Nasi, karena tidak semua penduduk asli Timika. Beberapa pendatang melakukan Transmigrasi ataupun hanya sekedar berkunjung ke Timika mereka tetap mengidolakan Nasi.

Ada beberapa suku yang terdapat di Timika, mereka bersama berbaur dalam kehidupan untuk saling melengkapi. Setiap sukunya di pimpin oleh kepala adat, atau bisa disebut kepala suku. Walaupun sudah adanya pemerintah setempat, mereka tetap berpegang teguh terhadap kepala suku. Kepala suku menjadi pemimpin dalam masing – masing suku, sebagaian mereka masih sangat mempercayai spiritualisme. Dalam berita yang sering kita saksikan di televisi tentang Konflik di Papua menjadikan Papua sebagai wilayah yang rawan, pandangan – pandangan spekulasi buruk dan negatif menjadikan Papua sebagian orang enggan untuk singgah di Papua. Penduduk Pribumi menceritakan kepada saya, tentang konflik yang sering terjadi di Papua. Dari konflik – konflik yang terjadi, biasanya disebabkan oleh adanya kesalah pahaman. Berbekal Busur Panah mereka mempersenjatai dirinya untuk melawan orang lain. Tidak jarang mereka melakukan penyerangan terhadap orang lain karena adanya masalah – masalah yang sepeleh dan berujung konflik suku. Hukum adat juga masih sangat kental diwilayah ini, tidak ada salahnya ketika kita berkunjung ke tempat yang jarang di kunjungi, terlebih dahulu kita harus bertanya kepada penduduk asli sekitar.

jika kita mengunjungi pasar tradisional, maka kita akan menjumpai kebutuhan – kebutuhan pokok yang biasa di konsumsi oleh masyarakat sekitar. Sagu sangat sering di perjual belikan di pasar, karena memang buah sagu bisa menjadi bahan baku pembuatan makanan.

Selain buah Sagu, ada tamanan umbi – umbian yang juga sering menjadi makanan konsumsi sehari – hari, masyarakat sekitar menyebutnya Keladi, kalau kita perhatikan Keladi ini seperti buah Talas.

Tidak hanya makanan saja yang di jual di pasar tradisonal disana, penduduk juga menjual karya – karya pahatan kayu yang dijadikan simbolis kehidupan tanah papua. Di pahatan kayu yang mereka buat tergambar relief – relier kehidupan.

Semakin berjalanya waktu, banyak Transmigrasi yang datang ke Timika untuk mencari nafkah. Kedatangan mereka ke Timika menjadikan kota ini menjadi hidup oleh adanya peradaban baru yang di bawa dari negeri para Transmigran. Kebudayaan sekitar memang musti di pertahankan, Hutan yang hijau Papua sekan menjadi paru – paru sebelah timur Indonesia. Sebagai anak dan cucu bangsa kita bisa mengapresiasikan dengan cara Melestarikan, walaupun belum bisa mengembangkan.